Hampir shubuh ketika saya naik kereta untuk pulang ke Thun. Duduk di depan saya seorang mbah kakung yang sudah sepuh. Menilik usianya yang berkisar antara 70-80, saya yakin ia bukan pulang ajeb-ajeb kayak saya.
Tak ada yang istimewa tentang mbah ini, penampilannya biasa dan sederhana. Satu kali ia memeriksa tasnya, mencari sesuatu. Mungkin lantaran kesulitan, ia pun mulai mengeluarkan barang-barang dalam tas ransel sederhana itu.
Ada sebutir apel dan jeruk dalam kantong plastik, sebotol air putih, sebungkus tissu dan sebuah sandwich sederhana berisi tomat dan selada, at least ndak keliatan ada dagingnya.
Saya yang tadinya ngantuk tiba-tiba jadi manyun, mikirin kenapa si mbah kakung ini dini hari masih berada di kereta, bukannya berbaring di dalam kamarnya yang hangat? Mengapa ia hanya sendirian, kemana istri atau kerabatnya? Mengapa hanya berbekal makanan dingin, adakah yang nanti akan menyiapkan makanan hangat untuknya?
Tiba-tiba terbayang jikalau saya mati muda. Mungkin kangmas saya akan serupa mbah kakung ini. Tak ada yang menemani bepergian, tak ada yang menyiapkan makanan hangat untuknya .. ia akan bertambah tua dalam sepi. Tanpa sadar, saya mbrebes mili (meneteskan air mata). Dalam hati saya nyuwun pada sang Gusti Pengeran supaya diparingi umur panjang, agar bisa menemani kangmas saya menuju senja.
*lagi melow*
walah. jangan mikir yg serem2. mari kita jadi positive persons.
*halah padahal aku yo lagi berada di low point sekali lagi. arghhhh…..
Comment by venus — January 21, 2008 @ 4:12 am
Kenapa ya artikelnya ndak di buatin kategori. Misalnya manyun, melow, renungan gitu. Jadi nggak semuanya uncatagorized. Salam. Mimbar
Comment by Mimbar — January 21, 2008 @ 4:03 pm
lha kamu kenapa nggak nemenin simbah itu aja?
Comment by GuM — January 22, 2008 @ 11:19 am