Malam kedua di swiss saya berangkat ke peraduan dengan perut klontangan alias kosong. Bukan karena sakit gigi terus ndak bisa ngunyah. Ceritanya mertua saya menghidangkan roti, keju, mentega, selai dan yoghurt. Dasarnya saya ndeso, saya berasumsi bahwa ini adalah sajian pembukanya.
Jadilah saya cuman makan selembar roti. Saya sengaja makan sedikit biar banyak tempat untuk makanan utamanya nanti. Setelah semua selesai, roti dkk pun disingkirkan, diganti dengan kopi dan teh. Sampai sini saya belum curiga.
Akhirnya satu jam berlalu, acara ngopi dan ngeteh pun usai, disambung dengan acara mengobrol. Mata saya jelalatan melirik ke dapur, karena dari tadi ndak ada bau-bau makanan, suara sreng sreng, dll.
Lalu suami saya bisikin, "mana makanan utamanya kok keluar-keluar?" Sebuah pertanyaan bodoh yang akhirnya jadi tertawaan seluruh keluarga. Malam itu baru saya tahu bahwa dirumah ini makan malam hanya berupa roti dan yoghurt. Sempet ditawarin untuk dibikinin sesuatu, tapi saya tolak lantaran terlanjur mutung, isin dan nesu. Jadilah malam itu saya kelaperan puol ..
loh tut, kowe biasane urusan ngene pede. lah koq ndek swiss malah ciut??? wah rugi kowe… kene ndang mbalik mulih
Comment by isdah ahmad — February 13, 2008 @ 5:13 am
hauahauahu….dasar weteng jowo
)
Comment by bazz — February 16, 2008 @ 3:20 am