Sambil menatap bulir salju yang pelan memenuhi halaman rumah, tiba-tiba saya rindu tentang banyak hal yang sebenarnya nggak penting banget.
Rindu masa kecil yang binal, ugal-ugalan dan merdeka. Bebas melakukan apa saja, tanpa takut salah. Wajar kalo salah, namanya juga anak kecil, begitu selalu kata ibu.
Meski kulinari disini bak surga, tapi lidah saya merindukan krupuk upil, potongan tebu, buah juwet, wafer superman, anak mas dan segala jenis makanan lain yang para ponakan saya nggak kenal (mereka kenalnya cuman oreo, tango, silverquen, maklum generasi 90-an).
Saya rindu polusi yang menyesakkan dada dan membunuh perlahan. Saya rindu air yang beraromakan kaporit. Saya rindu macet, suara klakson yang bikin budek. Rindukan musim panas yang tak berujung.
Saya merindukan suasana meeting, briefing, training yang dulu sangat membosankan. Saya rindu begadang berhari-hari demi laporan untuk pak bos. Saya merindukan hari-hari itu. Saya merindukan tempat-tempat itu. Saya merindukan orang-orang itu.
Malam ini saya sadar, bahwa saya masih normal. Saya masih punya perasaan .. buktinya rindu itu ada.
Normal normal. Rindu pada jalan tol yang katanya untuk roda empat tetapi HD non petugas boleh sesukanya masuk tol. Rindu bahwa pintu kereta api sekalipun sudah tertutup boleh diangkat palangnya.
Comment by mimbar saputro — November 28, 2008 @ 1:20 pm
salam kenal dar Jakarta..aku suka dengan bahasa yang dibuat di blog ini..jujur setiap blog walking selalu pengin liat update news yang ada disini.. Nice stories and not longer will feel the same way like you have now. Salam (Pangalila)
Comment by Joely Pangalila — December 6, 2008 @ 10:23 am